“Umat Islam tidak memakan babi karena agama mereka mengharamkannya,
dan ini adalah kebiasaan yang sehat. Cara makan Barat yang jelek dapat
mengundang penyakit, salah satunya karena konsumsi babi. Mungkin saja
Muhammad mengharamkan babi karena adanya cacing Trichina. Namun
bukankah ilmu pengetahuan pada masanya belum bisa menjangkau hal itu?
Justru berabad-abad setelah ajarannya tersebar, ilmu pengetahuan
menemukan berbagai bahaya babi”
(Profesor Hans-Heinrich Reckeweg, M.D., ahli toksikologi, Biological Therapy Vol.1 No.2, 1983)
Sebelum Anda berpusing-pusing ria mendalami artikel “bahaya babi
blah blah blah” ini, cobalah kalau bisa, Anda mengadakan eksperimen
kecil tentang bahaya daging babi di rumah. Di YouTube, Anda bisa
menemukan seabrek-abrek video eksperimen ini (eksperimennya sama)
dengan mengetik kata kunci di kotak Search : “why muslim don’t eat
pork”. Eksperimennya sangat mudah dan sederhana :
1. Daging babi ditaruh di atas loyang, lalu dituangi Coca Cola
sampai terendam benar (kebetulan daging babi di gambar adalah daging
asal supermarket)
2. Biarkan selama 2 jam di suhu ruang
3. Anda akan melihat banyaknya cacing yang menggeliat-geliat muncul dari dalam daging babi itu.
Gambar satu lagi di bawah ini adalah yang terekam sebuah kamera
khusus mengenai keadaan daging babi masak saat masuk ke lambung
manusia. Pada foto ditunjukkan cacing-cacing yang langsung keluar dari
daging babi masak (yang berwarna pink itu) dan beramai-ramai merayapi
dinding-dinding lambung. Cairan hijau pada foto di bawahnya lagi adalah
asam lambung. Ironisnya, asam lambung (yang bertugas membunuh bakteri
yang masuk bersama makanan), nampaknya tidak berpengaruh banyak
terhadap cacing-cacing yang merayap ini.


