
Jakarta - Masih ingat dengan iklan Partai Demokrat (PD) pada Pemilu 2009 lalu berjudul 'Katakan Tidak untuk Korupsi'? Slogan itu saat ini mengalami ujian. Apakah slogan itu masih berani dikumandangkan Ketum Anas Urbaningrum setelah gonjang-ganjing kasus Nazaruddin?
Rakornas menjadi momentum yang baik untuk PD mengusung kembali slogan tersebut. Bahkan Ketua Dewan Pembina PD Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berharap informasi yang disampaikan Nazaruddin soal keterlibatan oknum PD dalam sejumlah kasus korupsi, bisa menjadi awal pembersihan PD.
"Berikan kepada saya sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat apa pun informasi yang berkaitan dengan PD, karena itu berguna bagi saya, bagi partai untuk melakukan penataan, melakukan pembersihan kalau memang ada yang tidak bersih di dalam tubuh kami," kata SBY di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat (22/7) kemarin.
Menurut pengamat politik Iberamsjah, PD merasakan beban yang berat untuk kembali memakai slogan anti korupsi. Guru Besar Ilmu Politik UI ini menilai tanpa reformasi total partai ini akan sulit bertarung di 2014.
"Tantangan Demokrat pada Rakornas nanti harus berani mereformasi partai. Apa lagi yang mau dijual selain anti korupsi? Slogan ini pun sudah berat untuk diucapkan. Saya berani bertaruh," tegasnya.
Iberamsjah memprediksi Demokrat tak punya pilihan selain mengusut kadernya yang bermasalah hukum. Apalagi melakukan tindakan cepat dan tegas terhadap kader yang bermasalah hukum.
"Ramalan 2014 Demokrat bakal anjlok mungkin saja terjadi. Sebab pada tahun itu mereka sudah tak punya lagi slogan. Keberatan," tandasnya.
Beberapa kader PD memang tengah terseret kasus hukum. Andi Nurpati terseret kasus surat palsu MK, Ruhut Sitompul terbawa kasus pemalsuan dokumen yang dilaporkan istrinya Anna Rudhiantiana. Yang paling menghebohkan adalah M Nasir dan saudaranya M Nazaruddin. Dua orang terakhir ini terseret kasus suap wisma atlet.


